BLOG & ARTIKEL

Bagaimana Cara Menghitung Diskon dan Pajak?

Sobat Smartpro, apa kamu suka membeli suatu barang? Apalagi jika barang itu diberi diskon pasti kamu semakin ingin membelinya, bukan? Tapi, sudah tahukah apa itu diskon? Nah, dalam artikel ini kita bahas yuk penjelasan cara menghitung diskon sekaligus menghitung pajak suatu barang yang kita beli. Simak di bawah ini ya!

cara menghitung pajak - diskon di pusat perbelanjaan

cara menghitung pajak - diskon di pusat perbelanjaan

Diskon di pusat perbelanjaan. (Sumber: media.vivanews.com)

A. Diskon atau potongan harga

Diskon adalah potongan harga yang diberikan penjual terhadap harga jual suatu barang. Sering kita jumpai ketika berbelanja di toko atau supermarket, tulisan diskon 50%, diskon 80% atau bahkan diskon 60% + 40%.

Contoh:

Misalkan tertulis diskon 40% pada barang yang harga jualnya Rp200.000, artinya potongan harga yang diberikan untuk barang tersebut adalah 40% x Rp200.000 yaitu Rp.80.000

Secara umum, jika diskon = a% sedangkan harga jual = HJ, maka:

zenius.png

 

B. Pajak

Pajak adalah besaran nilai suatu barang atau jasa yang wajib dibayarkan oleh masyarakat kepada pemerintah. Besaran pajak diatur oleh peraturan perundang-undangan sesuai dengan jenis pajak.

cara menghitung pajak - Membayar pajak di kantor pajak

cara menghitung pajak - Membayar pajak di kantor pajak

Membayar pajak di kantor pajak. (Sumber: elshinta.com)

Jenis pajak yang terkait dengan jual beli terdiri dari:

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang harus dibayarkan oleh pembeli kepada penjual atas konsumsi/pembelian barang atau jasa. Penjual tersebut mewakili pemerintah untuk menerima pembayaran pajak dari pembeli untuk disetorkan ke kas negara. Besar PPN adalah 10% dari harga jual.

Contoh:

Jika harga jual Rp80.000 (tanpa pajak). Dengan PPN, maka pembeli harus membayar sebesar:

WhatsApp Image 2018-03-16 at 10.44.29.jpeg

= Rp80.000 + Rp8.000

= Rp88.000


Pajak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah pajak yang harus dibayarkan oleh pengusaha kecil atau menengah kepada pemerintah, yaitu sebesar 1% dari nilai omzet. Apa itu omzet? Yaitu jumlah uang hasil penjualan barang dagangan tertentu selama suatu masa jual (satu hari/satu bulan/satu tahun).

Contoh:

Pak Bagus seorang penjual bakso. Dalam sehari, rata-rata dia bisa menjual 200 mangkok bakso, dengan harga satu mangkok bakso Rp20.000.

Pajak UMKM yang harus dibayarkan selama satu bulan, sebagai berikut:

Omzet satu hari = 200 x Rp20.000 = Rp4.000.000

Omzet satu bulan = Rp4.000.000 x 30 = Rp120.000.000

Pajak UMKM = 1% x Rp120.000.000 = Rp1.200.000

Jadi Pak Bagus harus menyetor pajak UMKM atas usahanya sebesar Rp1.200.000 per bulan ke kas negara melalui kantor bank.

 

 

sumber

Connect with us

Bintaro Sektor 3A, Jl. Pd. Betung Raya No.87A, Pd. Betung, Pd. Aren,

Kota Tangerang Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 15221

  • Office (021) 7374496

  • Mobile +62 838 0789 1577

  • Email smartpro.education@gmail.com

Newsletter

Enter your email and we'll send you more information